Tampilkan postingan dengan label lucu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lucu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Agustus 2013

Maaf  Ukhti Dia Milliku


 http://islamicartdb.com/wp-content/uploads/2012/12/colored-niqab-drawing.jpg
Hari ini adalah hari pertama Zahra dan Qonita praktek KKN di kampung Belati. Zahra sengaja memilih di kampung ini karena ia bisa leluasa bertemu dengan lelaki yang telah melamarnya minggu lalu. Meskipun tidak selalu bertemu karena belum sah menjadi suaminya, namun setidaknya ia bisa melakukan interaksi langsung dengannya, di temani kakak perempuannya. Zahra dan Nita (panggilan Qonita) segera bersiap-siap untuk mengajar di MTS. Tepat jam 7, mereka mulai mengajar. Hari itu mereka hanya mengajar 1 jam pelajaran, kemudian diperbolehkan pulang.
Karena pulang lebih awal, akhirnya mereka memutuskan untuk keliling kampung agar bisa lebih mengenal sekitar. Kampung Belati, sebuah kampung yang sederhana, tidak terlalu maju, tidak juga terbelakang. Hawanya pun tidak perlu dipermasalahkan. Tidak terlalu panas, karena masih banyak pepohonan besar. Jika hujan deras, tidak akan banjir karena selain airnya menyerap ke akar pohon, di kampung ini juga terkenal bersih. Dikarenakan keadaan kampung seperti inilah, Zahra dan Nita semakin betah tinggal sementara di kampung Belati. Hari demi hari, minggu demi minggu mereka lalui kehidupan yang penuh liku.
“Nitaa, aku duluan ya ke masjidnyaaa.” Teriak Zahra
“Iyaa…” Zahra pun segera berjalan menuju masjid, meninggalkan Nita yang masih mandi. Maklum, baru pulang karena tadi di sekolah ada acara. Tak lama kemudian, terdengar suara adzan isya. Nita segera mempercepat langkahnya begitu selesai mandi. Entah kenapa perasaan tidak enak menyelimuti dirinya. Tetapi ia mencoba menepis rasa itu dengan beristighfar. Tiba-tiba matanya melihat segerombolan lelaki yang sedang tertawa terbahak-bahak di belokan jalan menuju masjid. Ia bingung, karena ini adalah jalan pintas agar bisa cepat sampai ke masjid. Selain itu, waktunya juga sudah mepet jika harus balik memutar jalan. Dengan mengucap bismillah, ia melewati gerombolan lelaki itu sambil pandangan menunduk dan setengah lari. “assalamu’alaikum ustdzaaahh.. mau kemana? Boleh tau namanya gaak?” Nita tidak mempedulikan pertanyaan yang membuatnya gak penting, ia semakin mempercepat langkahnya. Tanpa disangka-sangka, ada seseorang yang mencengkeram dan menarik lengannya. Nita meringis. “Sombong amat mbak. Cuma tanya nama aja gak boleh.” “maaf, saya buru-buru mau shalat. Sudah ketinggalan.” Jawabnya sambil ketakutan. “Heh mbak, lihat sini!!!”
Namun tiba-tiba ada yang mengucap istighfar dengan keras. Semua mata menoleh pada sumber suara. Nita heran karena semua lelaki gerombolan itu tiba-tiba menundukkan pandangannya. Cengkraman di lengannya belum dilepas. “Ada apa toh ini. Kenapa ada keributan.” Lelaki yang mencengkeram lengan Nita menjawab, “Cuma becanda kok ustad. Iya kan mbak?” sambil menoleh tajam ke arah Nita. Nita gelagapan dan bingung harus menjawab apa. Lelaki itu semakin menguatkan cengkramannya. Dengan meringis, Nita hanya pasrah dan terpaksa menjawab “Iya.” Ustad pun melanjutkan ceramahnya, “Kalian kan tau, ini sudah waktunya shalat isya, apa kalian tidak mendengar adzan tadi? Kenapa malah asik nongkrong gak jelas kayak gini. Astaghfirullaah, apalagi sudah berbuat yang tidak-tidak sama mbak Qonita. Kalian lihat, mbak Qonita ini mau ke masjid, jangan kalian menggangu dengan ulah kalian yang menurut kalian itu asik dan perlu dilakukan.” Semuanya masih menunduk dan mendengar ceramah ustad dengan khusyuk. Entah kenapa jantung Nita berdebar kencang. Ia juga heran, dari mana ustad ini tau namanya. “Sudah, sekarang kalian bubar, dan segera berwudhu, cepat shalat isya. Ayo!” Satu persatu meninggalkan tempat itu. Kini tinggal ustad dan Nita berdua. “Ehm, mbk Qonita mau ke masjid juga ya?” “Iya ustad. Syukron sudah menolong.” “iya, sama-sama. Ya sudah kalau gitu, bareng saja ke masjidnya.” “Iya, monggo ustad duluan.”
Selama diperjalanan, mereka berdua hanya tertunduk diam. Sebenarnya Nita ingin menanyakan, dari mana ustad itu tau namanya, ia juga gak tau nama ustad itu siapa. Tapi berhubung sudah sampai beranda masjid, maka niatnya ia urungkan. Mereka pun masuk melalui pintu yang berbeda arah. Nita dan ustad mengikuti gerakan imam, dan menambah kekurangan raka’at karena tadi ketinggalan.
Ketika mau pulang, Zahra menyuruh Nita untuk pulang duluan. Karena Zahra mau bertemu “someone” katanya. “kenalin donk..” Kata Nita becanda. “Iya kapan-kapan ya ukhti. Tenang aja, pasti Zahra kenalin kok.” Akhirnya Nita pulang duluan, meskipun agak takut kejadian tadi terulang lagi. Tetapi syukurlah, apa yang ditakutkan Nita tidak terjadi. Setelah sampai kost, Nita membuka Al-Qur’an dan membacanya dengan tartil.
Waktu menunjukkan jam 22.00, tapi Zahra belum pulang juga. Nita khawatir dan bingung. Ia mencoba menghubungi, namun tidak aktif. Akhirnya Nita memutuskan keluar, mencari Zahra. Ketika Nita membuka pintu, terlihat sesosok perempuan berjilbab berdiri di depan pintu, hendak mengetuk pintu, tapi keduluan dibuka Nita. “Ya Allah.. Zahra.. Ngagetin aja.. Dari mana toh, kok baru pulang jam segini.” “Hehehe.. iya maaf ukhti, tadi keasyikan ngobrol sama mbaknya ikhwan yang melamarku itu.” “Bikin khawatir orang saja. Ya udah, ayo masuk. Udah malem loh ini. Ndak baik kan perempuan jam segini masih diluar. Ukhti tau sendiri kan.” “Iya maaf ukh.” “Ayo tidur, besok kan harus ngajar.” “Iya ukhti cantiik.”
Mereka terlelap hingga shubuh, terdengar suara kokok ayam. Tak lama kemudian sang surya menampakkan dirinya di ufuk timur dengan ceria. Ia merasa bahagia telah membagi bagian dari dirinya dengan sinarnya yang hangat. Tidak hanya sang surya saja yang merasa bahagia, namun kedua perempuan jelita yang sholehah juga merasa bahagia karena bisa berbagi ilmu kepada murid-muridnya, mengamalkan apa yang selama ini di ajarkan oleh para pengajar yang setia memberikan jasa ilmu kepada setiap insan.
Sepanjang perjalanan menuju ke sekolah, dengan semangat Nita bercerita kepada Zahra tentang ustad yang semalam telah menolongnya. Zahra yang mendengar sangat antusias dan penasaran dengan ustad itu. “kenapa ndak kenalan saja toh? Kan lumayan gitu. Hehehe.” “Dia sudah tau namaku ukhti. Aku juga heran, dari mana ustad itu tau namaku.” “Ehem. Kalo ikhwan itu jodohmu, piye, kamu seneng opo ora?” “Ah, ukhti ini bagaimana, kalau menurutku nih ya, setiap muslimah pasti menginginkan dirinya untuk jadi pendamping hidup.” “Jadi penasaran loh aku ini. Kapan-kapan kenalin ya.” “kenalin piye, wong aku saja ndak tau namanya kok. Lagian jarang ketemu. Cuma ketemu kemaren doank pas mau ke masjid.” “Nah, aku ada ide nih. Ntar kalau ke masjid, gimana kalo nunggu ikhwan itu datang. Ya ukhti gak usah minta kenalan. Cukup nunjuk saja.” “Ah, ndak mau ah. Ngapain coba.” “ya sudah kalo ndak mau. Aku ndak maksa kok.” Tak terasa mereka sampai di sekolah dan mulai mengajar karena bel tanda masuk sudah terdengar.
Entah kenapa Nita memikirkan ustad yang menolongnya semalam. ‘Astaghfirullah. Aku ndak boleh bayangin aneh-aneh. Kalo dia memang jodohku, pasti Allah akan mendekatkan dia melalui petunjukNya yang tidak keluar dari syari’at.’ Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Nita segera siap-siap ke kantor Guru untuk menemui Zahra dan mengajak pulang.
—
Nita dan Zahra berjalan keluar dari masjid berbarengan setelah shalat maghrib berjama’ah. Namun Zahra berbelok ke w.c. hendak buang air. Nita menunggu di luar, depan masjid. Kemudian seorang laki-laki mengucapkan salam pada Nita. Ternyata itu adalah ustad yang kemarin menolongnya. Mereka sempat berbincang-bincang tapi cuma sebentar. Setelah itu ustad pamit, berbarengan dengan kedatangan Zahra dari w.c. Karena Zahra penasaran melihat Nita tersenyum-senyum sendiri, Zahra pun bertanya. Zahra agak kecewa karena tidak sempat melihat ustad yang di sukai Nita. Sambil berjalan, Nita bercerita besok pagi -yang kebetulan hari minggu-, setelah lari pagi bakal nunjukkin dan mengenalkan ikhwan yang telah melamarnya 2 bulan yang lalu. Nita akhirnya bisa tahu jagoan Zahra yang selama ini ia ceritakan dan di puji-pujinya.
Hingga tidak terasa, pagi itu setelah lari pagi mereka istirahat sambil duduk-duduk di kursi kayu. Sementara Zahra beli minum di warung depan, Nita bertemu dengan ustad yang di impikannya. Ustad itu hanya mengucapkan salam, kemudian berdiri sambil bersandar di pohon dekat Nita duduk. Ingin sekali rasanya mengajaknya berkenalan. Tapi di urungkan niatnya itu, karena Nita merasa tidak pantas dan tidak baik jika harus mengajaknya bekenalan. Ia hanya bisa memendam perasaan yang sudah menjalar di hatinya. Namun ia heran, kenapa ustad itu malah diam disitu. ‘ustad ini mau ngapain ya. Dateng-dateng kok malah diem dan berdiri. Sepertinya ini saatnya aku cerita ke Zahra, kalo selama ini ustad yang aku maksud ya ustad ini. Tapi kok ustadnya diem ya.. ndak ngomong apa-apa.’ Tak lama kemudian Zahra datang dan menyapa ustad itu, “Assalamu’alaikum mas Fahri.” Sambut Zahra sambil tersenyum. “Wa’alaikumus salam Zahra.” Kemudian pandangan Zahra beralih ke Nita. “Ukhti, ini ikhwan yang sering aku ceritain ke ukhti. Namanya Mas Fahri. Oh ya, ada kabar baik lagi, insyaallah bulan depan aku sama mas Fahri ngelangsungin sunnah Rasul.” Bagai di sambar petir, Nita kaget dan tidak percaya pada apa yang barusan ia dengar. Air mukanya telah berubah hanya dalam beberapa detik. Jantungnya berdegup kencang. Berbeda dengan yang kemarin, yang ini berdegup karena kaget dan kecewa. “Ukhti, kenapa? Kok kaya kaget gitu?” Nita hanya diam membisu sambil berfikir apa yang harus dia katakan pada Zahra bahwa selama ini ustad yang dikaguminya itu adalah calon suami Zahra sendiri. Karena lama menunggu Nita bersuara, akhirnya Fahri ikut bersuara, “Ehem, maaf Zahra. Aku udah kenal sama Qonita. Kemaren sempat bertemu di..” “Maaf Zahra, aku pulang duluan ya. Kepalaku tiba-tiba sakit. Assalamu’alaikum.” Kata Nita yang telah memotong pembicaraan ustad Fahri. Nita berbalik badan dan berlari. Zahra dan ustad Fahri yang melihatnya heran.
Nita duduk menyendiri di pinggir sungai yang begitu jernih. Sepi, tak ada orang. “Ya Allah, ternyata aku salah menyukai seorang ikhwan. Ternyata dia itu.. sebentar lagi sudah menjadi imam, menjadi pendamping hidupnya Zahra, teman dekat yang selama ini hidup besamaku. Aku baru bisa merasakan sakit ini, aku tau aku salah…” Tanpa Nita sadari, Zahra sudah berdiri dibelakangnya, dan mendengar semua keluhan Nita. “Nita…” Nita menoleh, dan kaget melihat Zahra ada di situ. “Za… Zahra..” Zahra memeluk Nita. Nita hanya bisa menangis, Zahra meminta maaf karena telah merasa menyakiti Nita, kemudian menghibur dan memotivasi Nita. Ia tahu kalau Nita adalah seorang perempuan kuat. Lama-lama Nita mulai sadar dan bangkit. Ia yakin Allah selalu bersamanya dan akan memberikan yang lebih dari pada ini. ‘Ya, suatu saat nanti Allah akan mengganti apa yang telah terjadi hari ini dengan yang lebih baik.’ Batinnya
Qonita tidak mau mengingat kejadian itu lagi, seolah-olah itu adalah angin yang berlalu. Ketika Zahra membawa suatu kabar baik, Qonita mampu kembali tersenyum ceria. Ada salah satu teman ustad Fahri yang sedang mencari akhwat sholehah untuk dijadikan pendamping. Ustad Fahri mencoba menanyakan pada Qonita melalui perantara Zahra. Qonita pun siap untuk mencoba berta’aruf dengannya minggu depan setelah magangnya selesai. Zahra dan Qonita berpelukan bahagia.

Cerpen Karangan: Rosa Lina
Facebook: di_cha3@hotmail.com

Cintaku macet di simpang lima

http://loenpia.net/blog/wp-content/uploads/2011/03/Semarangan7-simpang5.jpg

Aku meniti jalan ini lagi. Kali ketiga dalam satu hari ini. Aku tahu sebenarnya banyak jalan-jalan lain yang tidak pernah macet dan jelas akan sangat menghemat waktu perjalananku pulang dari kantor, tapi jalanan ini berbeda. Aku bahkan rela terkena macet 30 jam dalam sehari di jalan ini. Sangat, sangat rela. Malah aku sedang dengan sengaja terkena macet di jalan ini sekarang. Juga berputar-putar dengan sengaja. Unik sekali bukan?
Apa yang salah dengan jalan ini? Tidak ada yang salah. Hanya hatiku yang salah. Hatiku harusnya kusut pasai terkena macet panjang, dengan bis-bis pariwisata, bis dalam kota, angkutan-angkutan umum, taksi-taksi, mobil-mobil pribadi dan kendaraan bermotor yang harus berebut jalan. Merangkak perlahan-lahan. Harusnya hatiku kusut dan emosiku meluap karena ingin cepat sampai – seperti kemarin-kemarin. Tapi tidak dengan tiga hari terakhir ini. Malah aku dengan bahagia, bersiul-siul rendah sangat menikmati keadaan yang panas-pengap akibat berebut oksigen dan perjalanan yang tiga kali lipat lebih memakan waktu. Menikmati setiap detiknya.
Apa yang terjadi? Em… tidak ada. Kecuali hatiku yang macet berfungsi bersamaan dengan macetnya jalanan ini. Macet oleh perasaan aneh yang membuang semua kewajaran saat aku sedang terkena macet. Macet terhadap semua gundah, semua kesal, semua emosi. Macet karena bunga-bunga cinta dari seorang Polisi Lalu Lintas yang menanggulangi macet. Kukira jika aku tidak terkena macet, satu hari saja, bisa jadi jantungku yang macet berfungsi.
Aku tidak tahu namanya. Pokoknya polisi itu selalu berdiri di sana. Di ambang salah satu jalan Simpang Lima yang menuju Banyumanik – jalur yang paling banyak dituju untuk meninggalkan Semarang, dan mengintruksi kendaraan yang berlalu-lalang, kapan harus maju, kapan harus berhenti. Dia menggantikan fungsi lampu lalu lintas yang sementara ini sedang diperbaiki. Gadis muda sang Polantas itu tidak terlihat lelah sama sekali, senyumnya selalu merekah saat mempersilahkan pengendara maju, atau berhenti. Peluit selalu tersemat di pundaknya. Terlihat begitu anggun dan mempesona. Padahal langit sudah semakin gelap. Awan merah mulai berarak lembut di langit, disusul panggilan sholat yang bersahut-sahutan. Dalam hati aku berdo’a, terus berdo’a supaya Tuhan mengizinkan aku mengenalnya lebih dekat. Juga supaya Dia memberiku kesempatan bertatapan langsung dengannya dan menanyakan namanya. Juga mengizinkan aku menjadikannya pendamping hidupku. Memangnya aku bisa minta pada siapa lagi selain pada-Nya?
Sampai di jalur Banyumanik itu aku melirik sang Polwan, dia menghentikan laju mobilku dengan aba-aba, dan senyumannya nyaris menghentikan laju jantungku. Di dada kirinya tersemat papan nama kecil bertuliskan “Raya”. Ternyata itu namanya. Pantas saja semesta raya seolah tertawan olehnya. Ah, puitis sekali aku hari ini.
Sebenarnya aku punya beberapa kali kesempatan untuk menegur Raya. Bagaimana tidak? Aku sudah berputar tiga kali dalam sehari di Simpang Lima selama tiga hari berturut-turut. Bahkan terkadang lebih. Tapi entah kenapa, hanya melihat senyumnya saja kakiku langsung lemas, jantungku mendadak malas berdetak – hingga jadi sesak, lidahku kelu, otakku jadi lambat berfikir dan tidak mampu mengingatkan bahwa kesempatan mungkin tidak akan datang dua kali. Aku sering khawatir Raya berhenti bertugas di situ, atau khawatir lampu lalu lintasnya selesai diperbaiki. Karena jika itu terjadi, aku tidak akan lagi punya kesempatan untuk melihat Polwan-ku. Agaknya aku adalah satu-satunya pengguna jalan yang berdo’a supaya jalanan ini tetap macet. Setidaknya sampai aku bisa mengenal Raya lebih dekat. Memang do’a yang egois dan menyusahkan pengemudi lain yang melintasi jalan ini, tapi sekarang aku memang sedang ingin egois. Aku butuh jadi egois saat ini.
Sekali lagi aku berputar di Simpang Lima, kemudian kubelokkan mobilku ke masjid Baiturrahman yang megah dengan arsitektur jawa joglonya menghiasi perkotaan yang mulai ditumbuhi gedung-gedung pencakar langit, Mesjid tersebut berada di sisi jalur bundaran Simpang Lima, aku memarkirkannya di dekat menara. Selepas sholat, aku terpekur cukup lama di hadapan Tuhan. Meminta banyak hal dan terutama meminta Raya. Tuhan, hanya Engkau-lah yang bisa mengabulkan permintaanku, tolong izinkan aku mengenal sosok Raya lebih dekat, mengetahui asal-usulnya. Tuhan, jadikan Raya adalah tulang rusukku yang hilang, lalu kembalikanlah padaku secepatnya.
~ Raya ~
Harusnya aku mengundurkan diri tiga hari yang lalu. Meninggalkan jalanan macet ini dan rutinitasku di tengah-tengahnya. Ibuku sudah meminta itu sejak satu tahun yang lalu, dan aku sendiri sudah membulatkan tekad untuk melengkapi keislamanku yang baru seumur jagung dengan jilbab secepatnya. Maka saat instansiku tidak mengizinkan niatku ini, aku memutuskan untuk mengundurkan diri. Menurutku begitu lebih baik, toh aku tidak bisa terus berada di tengah jalanan seumur hidupku.
Sejatinya aku menikmati pekerjaanku. Setiap mobil yang melaju perlahan berdesakan, klakson-klakson yang beradu di langit jalanan, wajah-wajah emosi tidak sabaran, muka-muka ketus dan masam, dan kadang umpatan-umpatan sopir kendaraan. Seperti casting pertunjukan drama dimana semua orang diminta untuk memerankan tokoh antagonis. Kadang aku berfikir bahwa mereka seolah berebut menjadi yang terbaik dalam adegan klimaks sebuah sandiwara. Pasti sebelum terkena macet mereka tertawa, tersenyum, bahagia, dan sudah membayangkan wajah-wajah yang menanti mereka di tempat tujuan. Atau mungkin sudah mengilustrasi hidangan yang dipersiapkan seseorang di rumahnya sana. Maka aku berada di sini, di tengah jalanan ini, kadang tidak lagi karena tuntutan profesi, namun lebih karena panggilan hati untuk membantu orang-orang yang kesulitan melintas akibat macet itu agar segera sampai ke tempat yang menjadi tujuan mereka masing-masing.
Namun aku agak heran. Ada sesuatu yang menahan pengundur-dirianku, sesuatu itu agak berbeda. Dan membuat aku masih ingin bekerja di bawah terik matahari jalanan. Rasa penasaran pada satu sosok unik yang baru kali ini aku temui dari sekian banyak pengguna jalan yang selalu berganti-ganti sepanjang profesiku. Satu dari ribuan wajah-wajah yang masam, ketus, emosi, dan malah mengumpat, ada wajah yang tampak begitu tenang mengemudikan mobilnya, begitu santai dan menikmati kemacetan ini. Sejak tiga hari yang lalu aku merasa ada sepasang mata yang memperhatikan aku. Dan bukannya aku tidak tahu, sepasang mata milik pemuda tampan bermobil hitam dengan plat nomor H 679 AR itu terus melewati jalan ini tiga kali dalam sehari. Dengan wajah yang damai dan pandangan matanya yang tajam, seolah mengawasiku dengan lembut, hanya memandang saja dari jauh. Aku selalu berusaha mengacuhkan, tapi tatapan itu selalu terarah kemari. Kalau dipikir, gadis mana yang tidak tertawan oleh tatapan penuh makna seorang pemuda tampan seperti itu? Di antara puluhan pasang mata lain yang dalam sehari penuh menghujam, menyalahkan dan seakan meminta pertanggungjawaban atas jalanan yang selalu macet. Satu-satunya pengendara mobil yang tersenyum balik saat aku mengaba-abakan dia berhenti, atau maju.
“Raya, mau sholat dulu? Saya sudah. Saya bisa menggantikan kamu,” seorang rekanku menegur. Aku segera tersadar dari lamunan panjang. “Ah, iya. Terima kasih,” sahutku seraya tersenyum dan mempersilahkan rekanku itu menggantikan. Aku berjalan menuju masjid Baiturrahman yang letaknya paling dekat dengan posisiku saat ini.
Mobil hitam H 679 AR terparkir manis di samping menara masjid. Mungkin pemiliknya sedang menunaikan ibadah di tempat yang kutuju. Jika mengingat pemuda dengan sepasang mata teduh dan pandangan tajam itu, aku seperti menemukan sesuatu. Ada sesuatu dengan pemuda ini, yang tidak bisa aku definisikan apa, tidak mampu aku pahami kenapa. Namun setiap melihat wajahnya, aku merasa akan dekat dengannya, seperti sinyal yang mengidentifikasi bahwa akan ada ikatan dengannya. Hmf, aku tersenyum sendiri. Lucu dengan pikiran anehku. Kenal dengannya saja tidak, malah aku juga tidak tahu namanya. Tapi agaknya perasaan ini kuat sekali.
Selepas sholat, aku memohon ampun pada Tuhan, lalu meminta banyak hal dalam do’a panjangku pada-Nya. Dan hatiku tidak bisa kucegah, aku juga meminta pemuda itu pada-Nya, memangnya aku bisa minta pada siapa lagi jika bukan pada-Nya?. Ya Rabb.. Jika memang pemuda unik itu akan menjadi seseorang yang berarti di kehidupanku nantinya, maka mudahkanlah jalan kami, Ya Rabb.. perkenalkan aku padanya, dan dekatkanlah kami dengan cara-Mu.
Di depan masjid.
Tidak biasanya Adjie berlama-lama duduk di depan masjid. Meskipun dia memang sering berjama’ah maghrib di masjid Baiturrahman itu sejak terkena macet satu bulan yang lalu, dia biasanya langsung buru-buru pulang. Tidak terpikir sedikitpun untuk menyapa dan berbincang sebentar dengan sesama jama’ah. Tapi hari ini berbeda. Adjie bahkan sempat duduk lama dan mengobrol dengan seorang pemuda yang sepertinya seorang pegawai salah satu perusahaan sekitar Simpang Lima, terlihat jelas dari penampilannya.
Pemuda tersebut pamit, dan meninggalkan Adjie yang masih enggan beranjak dari tempat duduknya. Dan yang tidak pernah Adjie sangka, sang bidadari yang sudah tiga hari membuatnya rela berlama-lama dalam macet, dan menyengajakan diri terkena macet di jalur pantura itu duduk di sampingnya, tidak sampai satu meter, dan tanpa terhalang orang lain. Bidadarinya dengan wajah yang segar akibat air wudlu tampak semakin ayu terkena tampias sinar lampu. Dia sedang mengenakan sepatunya.
Adjie berhitung dengan waktu, satu, dua, tiga.. dia mulai gugup. Raya tampak tidak sadar ada seseorang yang kelimpungan di sampingnya, berdebar, senang, khawatir dan entah apalagi. Seseorang yang sedang ragu-ragu hendak menyapa. Tapi Adjie juga sadar, terlepas dari kesempatan ini, mungkin kesempatan lain tidak akan pernah datang lagi. Kapan lagi dia bisa duduk sedekat ini dengan sang pujaan hati? Kapan lagi dia bisa bertemu Raya? Siapa yang bisa menjamin kalau lampu lalu lintas akan tetap diperbaiki esok hari? Siapa yang bisa menjamin bahwa besok Raya masih bertugas di jalan yang sama? Di simpang Lima? Bagaimana jika tiba-tiba Raya pindah tugas ke kota lain? Dalam hati Adjie mulai panik. Lantas berkata pada dirinya sendiri, menyalahkan kesempatan yang datang tapi juga mensyukurinya bersamaan. “Kenapa harus secepat ini? Ini juga terlalu dekat, aku belum punya persiapan sekarang.. tapi jika tidak sekarang, kapan lagi?”
Raya mengenakan sebelah sepatunya yang lain. Sedang Adjie masih belum memiliki persiapan yang cukup. Dia masih menghitung waktu, masih mencoba mencari kata-kata yang cocok untuk digunakan sebagai sapaan. Sejujurnya dia tidak pernah segugup ini sebelumnya, padahal hanya untuk mengatakan ‘hai’ atau sapaan lain, padahal biasanya dia mampu bicara lugas dan tegas dengan lantang di hadapan umum. Mempresentasikan proyek yang dikerjakannya dengan sempurna. Tapi urusan cinta… ternyata lain ceritanya.
Raya hampir selesai mengenakan kedua sepatunya. Hanya tinggal beberapa menit kesempatan yang tersisa. Padahal lidah Adjie masih kelu. Tapi dia harus bertindak atau tidak ada kesempatan lain sama sekali.
“Assalamu ‘alaikum, Bu Polwan?” sapa Adjie. Akhirnya keberanian untuk menyapa dia dapatkan juga, mungkin karena biasanya dia tidak acuh dan tidak pernah peduli dan menyapa seorang gadis maka untuk memulai sebuah percakapan bahkan lebih sulit daripada mengerjakan rumus matematika manapun. Enggan dan memang tidak berani.
“Alaikumussalam..” jawab Raya. “Saya tidak asing dengan wajah anda, sepertinya anda langganan macet di daerah saya ya, Pak?” lanjut Raya membuka obrolan. Adjie tertawa malu saat tahu bahwa Raya ternyata menyadari tindakannya tiga hari terakhir ini. Di luar dugaan Raya, ternyata kesempatan itu datang. Kesempatan yang tidak disangka Raya akan bisa dia dapatkan begitu cepat, hanya berselang belasan menit yang lalu dia meminta pada-Nya. Benarkah sekarang sudah terkabul? Apa ini cara-Nya memperkenalkan mereka?
“Saya Adjie, Bu Raya,” kata Adjie memperkenalkan diri. Dia menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
“Wah.. kok anda sudah tahu nama saya?” Raya terkejut. Namun kemudian Adjie menunjuk papan nama yang tersemat di seragam gadis itu. Raya tertawa menyadarinya.
“Saya suka lupa saya sudah mempublikasikan nama di seragam saya.” Lanjut Raya. Masih diselingi tawa.
“Berapa lama tinggal di Semarang?”
Adjie mengerutkan kening. Seolah berfikir, “seingat saya sejak kecil, usia 10 tahun kayanya..” Raya manggut-manggut mengerti. “Sudah hafal Semarang dong ya..” gadis cantik itu berkomentar. Adjie mengangguk mantap mengiyakan. Dia memang orang Semarang asli, hanya saja ayahnya sempat dipindah tugaskan ke Blora dan dia baru kembali ke kota Atlas ini pada usia 10 tahun.
“Ngomong-ngomong, kenapa anda kayanya bolak-balik terus ya di Simpang Lima?” Raya tersenyum jail, sedangkan Adjie sudah tertawa malu dengan wajah yang mulai memerah. Tertangkap sudah.
“Saya suka lupa jalan,” jawab Adjie sekenanya.
“Ahahaha… bohong. Masa anda sudah jadi orang Semarang sejak usia 10 tahun tidak hafal jalan Simpang Lima?”
“Saya bukan tidak hafal, hanya suka lupa…” Adjie berkelit, beralasan.
Dan percakapan merekapun berlanjut dengan renyah, seolah kedua sahabat lama yang baru saja bertemu kembali setelah sekian tahun tak ada kabarnya. Percakapan itupun menjadi permulaan bagi kisah yang terukir hingga ujung usia mereka berdua.
Ada yang pernah mengatakan pada saya, bahwa do’a yang dipanjatkan untuk orang yang tidak tahu bahwa dia didoakan, akan terkabul. Saya pikir, mungkin karena do’a yang dipanjatkan keduanya adalah sama maka dua do’a itu saling tarik-menarik di langit dan kemudian terkabul dengan cepatnya. Soal bagaimana kelanjutan kisah mereka berdua, mari kita biarkan Tuhan yang menyelesaikan dengan cara-Nya.
SEKIAN
Cerpen Karangan: Aya Emsa
Blog: butirbutirembun.blogspot.com
Facebook: anindya aryu emsa